Sayembara Rumah Sehat 2011 “Flowing House (Rumah yang Mengalir)”

Nah, ini adalah sayembara arsitektur kedua saya yang alhamdulillah juga terkirim. Namun tidak menang :V Tapi tidak apa-apa, yang terpenting adalah berpartisipasi,belajar dan mencoba lagi. Kalah itu bukan suatu keterpurukan kok, tapi kalah adalah bagian dari belajar. Dan tidak ada orang yang akan menyalahkan orang yang belajar. Namun kritik, pasti ada. Dan kritik tidak harus membuat kita berkecil hati, namun kritik itu membangun.

Tema yang saya ambil dari sayembara ini adalah “Flowing House”, rumah yang mengalir. Mengapa saya mengambil tema tersebut? Haha…:D Kali ini saya akan berbicara jujur. Sebenarnya saya tidak menemukan tema perancangan, saya merancang dengan sesuka hati dan semau-mau saya dan tidak terarah. Dan menemukan tema ini pun begitu saja tanpa ada pencarian referensi dan apa yang sedang in saat ini. Dan jelas itu sangat SALAH. Tidak seperti itu metode merancang yang benar.

Namun tetap, percaya diri yang menyelamatkan saya 😀 Sayembara ini saya kerjakan sendiri dan tidak mau berkelompok. Karena pada saat itu memang sedang sibuk-sibuknya kuliah dan tugas kampus. Teman-teman pun banyak yang tidak mengikuti sayembara ini. Saya pun dengan egois tidak mau berdiskusi ataupun mencari partner untuk mengerjakannya. Saat itu saya merasa bisa sendiri. Alhasil, kalah lagi, tapi tidak apa-apa. Semangat terus…

Nah metode suka-suka ini menghasilkan rancangan yang juga suka-suka. Dan jangan meniru metode ini ya… 😀

Rumah dengan lahan 6 M x 15 M cukup sulit juga untuk membentuk massa bangunannya. Tornya adalah sebagai berikut :

Indra Kusuma (34 thn) dan Maya Lestari (32 thn) adalah pasangan muda dengan 2 anak, Reza (6 thn) dan Meisya (4 thn). Keluarga kecil ini tinggal di rumah peninggalan orang tua Indra yang terletak di tengah kota yang padat. Masalah timbul sejak beberapa tahun ini. Reza yang aktif sering mengeluh karena tidak bisa bermain sepeda di pekarangan rumah, apalagi di jalanan depan rumah yang sempit dan penuh mobil.

Agak menyesal juga Indra, yang bekerja sebagai manager operasional percetakan dan sehari-hari berhadapan dengan bahan kimia berbahaya, membongkar taman belakang dan menjadikannya bangunan. Udara dalam rumah menjadi pengap, diperburuk oleh banyaknya bangunan tinggi di sekitar lahan rumah. Jalanan yang bising pun selalu mengganggu tidur pria yang hobi bermain gitar dan mencipta lagu ini, padahal ia sering bekerja malam dan butuh tidur di pagi hari.
Lain lagi masalahnya dengan Meisya, si kecil yang hobi menggambar. Debu dan asap kendaraan yang setiap hari masuk ke dalam rumah sering membuat asmanya kambuh. Maya selalu mengeluhkan hal ini pada Indra.  Apalagi dalam segi penampilan, rumah ini juga tak bisa dibanggakan, sedangkan profesi  sebagai editor majalah mode menuntut wanita yang hobi membuat kue ini senantiasa menjaga citra diri.
Renovasi rumah akhirnya menjadi pilihan keluarga, sehingga bentuk garasi yang tak sesuai dengan GSB pun bisa diperbaiki. Dengan dana seminimal mungkin, mereka berharap bisa mendapatkan rumah yang lebih sehat, nyaman, bisa mengakomodasi kebutuhan serta hobi keluarga, dan tentunya meningkatkan citra keluarga.
Data Tapak
  1. Lokasi tapak di kota besar dan permukiman padat penduduk.
  2. Ukuran lahan 6 m x 15 m.
  3. Depan tapak adalah jalan berukuran 5 m, sedangkan kanan, kiri, dan belakang berbatasan dengan rumah tetangga.
  4. Tinggi bangunan adalah 8 m (2 lantai, dari permukaan tanah ke puncak atap), sedangkan tinggi bangunan sekitar adalah sekitar 12 m (3 lantai).
  5. Garis Sempadan Bangunan = 3 m
  6. Koefisien Dasar Bangunan = 60%
  7. Rumah menghadap ke arah barat.
  8. Suhu rata-rata bulanan
    • Suhu rata-rata = 27° C
    • Suhu maksimum = 34° C
    • Suhu minimum = 24° C
  9. Kelembapan rata-rata bulanan
    • Trimester 1 = 82%
    • Trimester 2 = 79%
    • Trimester 3 = 73%
    • Trimester 4 = 76%
  10. Kecepatan angin bulanan = 3 Knot
Berdasarkan data-data yang telah didapat tersebut, saya berusaha menciptakan bangunan yang sesuai  dengan TOR. Lokasinya sudah ditentukan di dalam TOR, jadi kita tidak mencari site lagi.
Hasilnya…
Image
Site plan

Image

Lantai 1

Image

Tadinya lantai pertama ini tidak ingin saya beri pintu, (pintunya kelihatan maksa sekali ya …:D mana ada pintu tipis begitu) Entah apa yang saya pikirkan saat itu, Karena ingin menguatkan tema “Flowing House”, saya ingin rumah yang benar-benar mengalir tak ada hambatan. Setelah saya pikir-pikir lagi, gak masuk akal jadinya. Gampang banget maling masuk. Akhirnya saya sadar dan memberi pintu pada rumah ini . Hahahah,,, Kalau diingat-ingat lagi, lucu. Rumah tak berpintu.Image

Image

Lantai 1 merupakan area multifungsi yang mengalir luas. Didesain semaksimal mungkin agar dapat dimanfaatkan sebagai area bermain anak.  Lantai dibuat agak kasar agar tidak membahayakan anak-anak bermain.
Rumah berada pada lahan sempit, tidak ada tempat untuk bermain anak. Saya berusaha mendesain ruang terbuka yang luas tanpa sekat di lantai dasar tanpa elevasi lantai agar tidak berbahaya bagi anak-anak saat sedang bermain. Furnitur juga didesain ringan dan mudah dipindah-pindah. Pada saat ibu sedang bekerja di dapur, ibu dapat mengawasi kegiatan anak. Area bawah tangga untuk melukis. Papan-papan lukisan dapat diletakkan di bawah tangga agar tidak mengganggu.
Jika dilihat lagi, di depan lukisan anak itu ada kerikil. Saat itu saya berpikir kerikil itu berfungsi sebagai tempat jatuhnya air hujan dari atap di lantai 3 karena atap itu saya desain berlubang. Setelah saya pikir-pikir lagi, tidak mungkin sekali hujan dari lantai 3 turun ke lantai 1 tidak dengan percikannya, bagaimana jika hujan turun sangat deras? Bagaimana jika badai? Dan ini saya sadari setelah bertahun-tahun kemudian. Desain yang aneh menurut saya, tapi saya yang membuat 😀 (geleng-geleng kepala)
Image
Lantai 2
Image
Image
Walaupun banyak keanehan desain di dalam desain saya sendiri, 2 gambar suasana di atas adalah favorit saya. Aneh tapi ini yang paling saya suka dari keseluruhan desain aneh yang lain. Void dan balkon, saya suka. Dalam pikiran saya ini unik. Maksudnya dibikin begitu sebenarnya untuk menghalangi cahaya masuk langsung. Kalau balkonnya menjorok begitu kan cahaya matahari gak langsung masuk. Waktu itu saya mikirnya begitu. Hohohoo 😀
Nah interior ruang keluarga di bawah bakon void itu juga saya suka karena suasananya dapet (menurut saya loh :D)
Image
Lantai 3
Image
Dinding kamar pada kamar tidur utama dengan ketebalan 30 cm dan dilapisi batu alam untuk meredam kebisingan. Selain itu batu alam merupakan salah satu material yang paling banyak menyimpan radiasi karena itu dinding yang dibuat dari batu, dingin lebih lama saat material lain sudah panas. Dinding batu alam paling disarankan untuk rumah agar lebih dingin dan mengurangi bahkan menghilangkan penggunakan AC. Dinding batu alam setebal 30 cm bisa menahan panas maksimum hingga 8 jam, artinya panas dari luar akan ditahan dalam dinding tersebut selama 8 jam sebelum benar-benar panas.

 Image

Atap transparan yang dapat digeser. saat hujan , badai, atau cuaca buruk, atap dapat ditutup dari ruang kerja. Saat cuaca sedang baik, atap dapat dibuka untuk mendapatkan cahaya dan untuk mengalirkan udara ke atas,

Oh Tuhan, ini lagi salah satu keanehan dari desain saya sendiri, bagaimana mungkin saya mendesain atap yang bisa digeser geser begitu? Bagaimana saat hujan badai datang, tidak ada orang di lantai 3, apakah harus berlari-lari ke dari lantai 1 ke lantai 3 hanya untuk menutup atap? Bagaimana bila saat hujan orang-orang sedang tidur dan lupa menggeser atap? Omegot…. apa yang saya pikirkan saat itu ya? Hahahah…:D Kalau diingat lagi, saya pun baru sadar dan ingin tertawa sendiri 😀

Image

Image

Railing tangga dari barisan bambu dengan konstruksi yang kuat agar aman bagi anak-anak. Dinding belakang dengan frame bambu untuk sirkulasi udara yang lebih baik. Udara di bagian belakang lebih baik dari pada area depan karena area depan bangunan adalah area jalan besar.

Setelah saya pikir-pikir kembali, waktu itu mungkin saya menginginkan tema Flowing House ini begitu terlihat dari aliran udara yang bergerak lancar menembus rumah ini, namun setelah saya pikir-pikir kembali, udara yang mudah mengalir berbanding terbalik al dengan air hujan yang masuk 😀 (tepok jidad). Tapi sekali lagi, ini karya saya yang muncul dari kepala saya (waktu itu loh,,,,) 😀 Hohoho…

Image

Image

Halaman depan dibuatkan resapan biopori agar air hujan menyerap ke tanah dan menjadi sumber air bersih sumur untuk kebutuhan penghuni. Selain itu juga, biopori mampu mengatasi banjir. Caranya dengan memasukkan sampah organik ke dalam lubang berdiameter 10 cm. Sampah yang busuk mendatangkan cacing yang dapat mengurai sampah tersebut menjadi kompos dan menggemburkan tanah. Tanah yang gembur mudah menyerap air.

Image

Tampak depan

  • Tinggi bangunan 12 m disesuaikan dengan tinggi bangunan sekitar
  • Koefisien dasar bangunan 60 %
Tanaman rambat sebagai penghasil O2 dan menyaring udara yang masuk. Udara yang dihasilkan lebih bersih.
Image
Tanaman rambat yang menjuntai-juntai sebagai sunshading bagi fasad bangunan dan menyaring sinar matahari karena rumah menghadap ke arah barat.
Image
Potongan
Image
Panel sayembara
Dampak dari konsep suka-suka juga menghasilkan desain yang suka-suka dan tidak terarah. Dan semua ini adalah proses belajar dan saya rasa tidak salah karena suatu proses pasti akan mengalami suatu kesalahan. Setelah lama saya pikir lagi, sayembara ini sebenarnya didasari dari ketidaksiapan saya, tapi saat itu saya hanya memiliki keinginan untuk menambah portfolio. Kasarnya, menang tidak menang itu tidak penting, yang penting portfolio saya banyak. Dan ini adalah konsep pemikiran yang menurut saya salah. Saya tidak mempertimbangkan desain saya sendiri. Saya lemah dalam mengolah estetika.
Pernah saat itu saya memasukkan perspektif desain saya ke IAI Jambi. Apa yang saya dapat? Kritikan. Saat itu saya berpikir karya saya ini bagus dan dengan penuh percaya diri saya menguploadnya ke grup IAI Jambi. Dan saya mendapat kritik mengenai renderan. Postingan visualisasi saya (renderan) tidak sesuai dengan background langitnya. Sebenarnya saya berharap kritikan mengenai desain, tapi yang saya dapat adalah kritikan soal visualisasi yang ternyata itu pun penting. Saya memberi pembelaan bahwa itu adalah karya sayembara (berharap orang orang-orang memaklumi bahwa saya masih belajar dan tidak menyalahkan saya). Namun kritik tetap saja kritik. Ada beberapa orang yang mengomentari dan meminta saya memperlihatkan konsep dan denah desain saya. Saat itu saya mengiyakan tapi sampai saat ini saya tidak pernah memunculkan itu karena tiba-tiba saja saya down.
Dari pengalaman upload suka-suka itu saya mendapat pelajaran bahwa mendesain harus dengan hati. Tidak bisa asal desain karena itu akan ditertawakan orang-orang. Mendesain harus punya estetika, dan kepekaan saya mengenai estetika sangat kurang. Visualisasi itu sangat penting untuk bisa memengaruhi pencitraan kita dan ketertarikan orang terhadap karya kita. Kita tidak bisa mendesain sekehendak hati kita, semau kita tanpa memikirkan apa yang diinginkan orang lain. Penilaian orang lain terhadap kita adalah gambaran diri kita. Dan itulah pelajaran. Kritikan orang adalah bahan belajar buat kita.
Mungkin beberapa permintaan di TOR bisa saya penuhi, namun saya belum mampu peka terhadap estetika dan bentuk. Dan itulah yang harus diasah. Gambaran panel sayembara yang saya buat pun ala kadarnya. Saat itu saya menggunakan software Corel Draw dalam penyusunan panel. Namun estetikanya masih sangat kurang baik. Banyak kesalahan yang saya buat dalam desain. Desain ini bisa dibilang desain gagal, dan saya baru menyadarinya setelah melewati banyak hal dan belajar. Di situlah keindahannya. Belajar untuk tau, belajar untuk mengerti, dan belajar memperbaiki.
^^(^_^)^^