Mengintip Fisika Bangunan Gedung STOVIA (Museum Kebangkitan Nasional)

Image

Tanggal 6 Mei kemarin saya berkesempatan mengunjungi ex. STOVIA ( School tot Opleiding van Inlandsche Artsen ) yang sekarang menjadi Museum Kebangkitan Nasional yang terletak di daerah Senen. Senang sekali bisa mengunjungi lokasi bersejarah ini.

Museum Kebangkitan Nasional ini dulunya adalah sekolah untuk masyarakat pribumi yang diberi kesempatan oleh Belanda untuk menimba ilmu sebagai mantri cacar. Bangunan STOVIA ini sudah berdiri sejak tahun 1902. Selain sekolah, bangunan ini dulunya juga asrama. Sekarang, STOVIA menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Hari itu adalah hari dimana bapak Adhi Moersid meluncurkan bukunya yang berjudul “Kagunan”. Saya bersama para Kartini Atelier Enam Arsitek mendapat tugas menjadi penanti tamu dan pemberi buku yang dibagikan secara gratis oleh Kemendikbud. Sayang sekali, buku ini tidak diperjualbelikan, hanya untuk kepentingan perpustakaan dan para tamu yang hadir. Namun di kesempatan lain saya akan menuliskan resensi mengenai buku tersebut.

Di selang waktu yang tersisa, saya bersama dua kartini Atelier Enam Arsitek lainnya menyempatkan mengelilingi Museum ini dan menikmati nuansa arsitektur kolonial klasiknya walaupun tidak semua ruangan bisa kami kunjungi.

Image

Pertama kali memasuki bangunan, nuansa kolonial langsung menyeruak di benak saya melihat fasade bangunan yang sudah dipugar ini. “Pasti ada kesan besar dan luas”, pikir saya dalam hati. Karena saya termasuk salah satu mahasiswa yang menyukai desain kolonial pada masa kuliah dulu. Dan dalam hati saya berkata, ” Saya akan suka berada di dalam.” 😀

Image

Image

Melihat bangunan yang panjang dan berlantai satu, sudah jelas ini adalah desain arsitektur lama. Tidak ada lantai dua. Bangunan sederhana satu lantai sudah pasti fisika bangunannya akan lebih baik. (Pikir saya loh) 😀

Image       Image

Image

Ini adalah lobi saat memasuki bangunan. Di kiri dan kanan lobi dipasang nama-nama pahlawan kebangkitan nasional untuk sekedar diketahui dan mengingatkan pengunjung bahwa mereka-mereka itulah yang berperan dalam kebangkitan nasional di Indonesia pada masanya :D. Dan mungkin saat ini, generasi muda sudah melupakan mereka begitu saja.

Image

Tahun 1774 bangunan ini selesai dipugar dan dijadikan Museum Kebangkitan Nasional. Telah disahkan oleh Presiden Soeharto pada masa itu 😀

Image

Dari keterangan di atas terlihat pemerintah Hindia Belanda berusaha meningkatkan pendidikan kedokteran karena kebutuhan untuk wilayah jajahannya di Indonesia. Pendidikan sebagai mantri cacar yang awalnya dapat ditempuh selama 2 tahun meningkat menjadi 3 tahun, lalu meningkat kembali menjadi 5 tahun dengan 2 tahun masa koas (persiapan menjadi dokter) total 7 tahun, dan sekarang, pendidikan dokter bisa ditempuh selama 4 tahun saja oleh pemerintah Indonesia karena pengurangan SKS. Namun masa pengabdian tetap 2 tahun.

Image

Dari area lobi, kita langsung dihadapkan taman luas dengan rerumputannya yang hijau menyejukkan mata memandang. Dari area lobi, semilir angin langsung menyeruak ke segala arah. Hawa sejuk datang dari arah mana saja. Saya pun tertegun. Bagaimana mungkin masih ada hawa sejuk di daerah Jakarta yang panas ini? Ternyata keberadaan angin dapat dimunculkan lewat perancangan bangunan yang benar seperti desain STOVIA ini. (Menurut saya loh) :D. Selain halaman luas, pepohonan besar masih dipertahankan dan ditata sedemikian rupa sebagai penghasil oksigen.

Sedikit yang mengganggu menurut saya adalah bangunan kecil di bagian kanan foto di atas. Saya tidak tau bangunan apa itu dan sejak kapan ada di sana. Saya berpikir, seandainya saja bangunan kecil tersebut tidak ada di sana, tentu saja pemandangan rumput hijau yang luas tidak terganggu 😀

Image   Image

Foto di atas adalah halaman yang tertata. Mungkin pada masa bangunan ini menjadi sekolah, itu adalah tempat upacara. Bangunan ini sangat sederhana dari segi bentuk, namun efek visual dan perasaan terasa begitu nyaman di dalamnya. Sejuk dan terang terlihat dari selasar.

Image     Image

Image

Foto di atas menunjukkan beberapa pohon besar yang memberikan oksigen berlimpah ke daerah sekitar bangunan. Keberadaan pepohonan besar itu sangat berpengaruh sekali terhadap suasana dan suhu sekitar. Seandainya saja tidak ada pohon, suhu udara di sekitar bangunan tidak akan sesejuk itu. Perkerasan juga diminimalkan agar efek heat island tidak muncul.

Image     Image

Salah satu yang membuat saya sempat bergidig adalah diorama ini. Itu adalah diorama para dokter jawa yang sedang menuntut ilmu. Begitulah suasana yang digambarkan. Dengan seorang guru wong londo. Dari pakaian, terlihatlah mereka adalah para bangsawan pada masa itu.

Saya sempat bertanya pada teman saya, “Fit, itu ada acara apa ya di sana kok banyak orang-orang.” Saya mengira bukan hanya Pak Adhi Moersyid saja yang sedang mengadakan acara di sana. Sontak teman saya langsung tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan saya. Ternyata itu adalah diorama. Saya diajak mendekati diorama itu dan saya pun tertawa sendiri. Ternyata efek tidak pakai kacamata membuat rabun jauh saya begitu mengaburkan pandangan saya 😀 😀 😀

Image

Nah, ini adalah salah satu lukisan yang mengambarkan suasana pada tahun itu. Dimana masih adanya peperangan, situasi para dokter jawa yang sedang berdiskusi dan lain sebagainya.

Image

Kalau yang ini adalah diorama yang menggambarkan Kartini sedang mengajar anak-anak pribumi. Ruangan ini sedikit pengap karena jendela ditutup. Untung saja ini sekarang adalah museum, bukan tempat yang didiami orang untuk melakukan kegiatan.

Image

Di sini saya ingin mengambarkan ruangnya. Ruangnya begitu kecil sebenarnya. Namun didesain dengan plafon yang tinggi untuk sirkulasi udara yang baik. Terlihat jendela di belakang diorama itu. Dan terdapat pintu berkisi-kisi di posisi sayas memotret. Begitu banyak udara yang mungkin masuk. Cahaya pun berlimpah dari segala arah. Ini mungkin salah satu ruangan yang masih menggambarkan ruangan aslinya.

Image

Beginilah keadaan selasar bangunan. Dengan kanopi lebar dan ditahan dengan besi berbentuk silinder. Kanopi yang lebar ini memungkinkan tidak ada tempias air hujan yang mengotori bangunan dalam. Berbeda sekali dengan bangunan minimalis jaman sekarang yang hanya menggunakan kanopi selebar 60cm. Jelas saja tempias hujan tetap akan masuk.

Image     ImageMaket yang di kiri adalah maket keadaan STOVIA pada tahun 1908 dan maket di kanan adalah keadaan Museum Kebangkitan Nasional saat ini. Tidak banyak yang berubah dari segi massa bangunan. Hanya pengalihan fungsi saja.

Image Image

Image  ImageKarena pengalihan fungsi sebagai museum, ruangan ini diberi AC untuk menyamankan pengunjung dan dinding bata dibongkar menjadi kaca untuk pencahayaan yang maksimal untuk sebuah ruang museum. Dan didalam dipamerkan alat-alat kedokteran seperti alat-alat untuk operasi, perawatan gigi, alat pemecah kepala, alat-alat melahirkan, dan lain sebagainya -_- Dari segi sirkulasi udara mungkin kurang maksimal, tapi dari segi pencahayaan sangat maksimal 😀

Image

Pada dasarnya, bangunan ini adalah bangunan yang sangat tropis sebelum dipugar. Belanda benar-benar sangat mempertimbangkan iklim Indonesia saat merancang bangunan ini. Mereka sangat memerhatikan segala aspek yang berkaitan dengan fisika bangunan. Mereka mempertimbangkan sirkulasi udara dengan menciptakan bangunan tipis memanjang dengan halaman yang sangat luas mengingat Indonesia adalah daerah tropis yang panas dengan curah hujan yang tinggi. Mereka mempertimbangkan bagaimana agar cahaya masuk dari segala arah sehingga tidak membutuhkan pencahayaan buatan yang lebih banyak. Nah, itulah mengapa mereka mendesain pintu yang tinggi dengan ventilasi yang besar untuk membebaskan cahaya masuk. Pencahayaan dari cahaya matahari pun mampu mengeringkan keadaan lembab di dalam bangunan. Begitu juga dengan tanaman-tanaman yang ditanam di dalam halaman, membantu pengaliran udara sehat yang lebih banyak.

DSC_0367Setiap saya melihat bangunan kolonial Belanda, saya selalu bertanya, mengapa mereka selalu membuat jendela dobel? Jendela kaca diletakkan di luar dan di dalamnya pasti ada jendela lagi yang membuka ke dalam, jendela berkisi-kisi. Ternyata setelah saya analisa sendiri, jendela ini bisa menjadi duo fungsi. Saat membutuhkan privasi, pengguna bangunan bisa menutup jendela berkisi-kisi dengan membuka jendela kaca. Dengan begini walaupun ruangan ditutup, udara tetap bisa mengalir. Saat udara dingin, pengguna bangunan bisa membuka jendela berkisi-kisi dan menutup jendela kaca sehingga cahaya tetap masuk. 😀 Hmmm… duo fungsi yang mengagumkan menurut saya 🙂 Kekhasan desain jaman dulu selalu membuat saya terkgum-kagum. Berbeda sekali dengan arsitek masa kini yang masih banyak mementingkan estetika daripada fungsi yang sebenarnya 🙂

Image      Image

Atap genteng diekspos beserta kayu-kayu reng dan usuknya. Atap genteng tanah liat mampu menyerap panas dan menjadikan ruangan di bawahnya lebih dingin.

Image

Selasar ini yang paling saya suka dari STOVIA. Kita bisa berjalan dari bangunan satu ke bangunan lainnya dikelilingi dengan rumput hijau dan pepohonan rindang, diteduhi dengan atap sepanjang jalan setapak 😀

Image       ImageSalah satu jalan setapak yang juga saya suka. Tidak ada halaman yang tak berumput. Suasananya begitu berwarna dan bersahabat 😀