KELAYAKAN RUANG DAN FUNGSI TERHADAP PSIKOLOGI PENGGUNA BANGUNAN

Jam menunjukkan pukul 15.45. Saya duduk sembari memerhatikan sekeliling ruangan. Tampak disana sini ibu-ibu menggendong putra putri mereka. Sesekali terdengar rengekan dari anak-anaknya. Perawat terlihat bolak balik mengurusi keperluan pasien. Saya sadari ternyata saya pun sedang menggendong seorang balita berusia 1 tahun 10 bulan. Dia keponakan saya yang sedang demam tinggi sejak 4 hari yang lalu ;( . Sesekali kurasakan hangat tubuhnya menjalar ke lenganku yang terus mendekapnya erat karena takut dia menangis kembali.

Sambil menunggu ibunya yang sedang sibuk mendaftarkan namanya, mata saya asik memerhatikan sudut-sudut ruang yang terasa janggal dalam pandanganku. Sebenarnya ingin cuek dan masa bodoh. Tapi naluri seorang arsitek tidak bisa berbohong. Saya merasa tak tahan untuk menuliskan ini semua. Sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk melakukan kritik arsitektur saat itu. Saya hanya bisa bergumam, “Bagaimana mungkin bangunan seperti ini layak dijadikan rumah sakit…”

Sebenarnya ini bukan kritik arsitektur. Saya tidak ingin apa yang saya tuliskan ini disebut kritik. Saya lebih suka untuk disebut sebagai koreksi dan pengingat bagi saya sendiri dalam mendesain.

Di dalam ilmu rancang ruang, selain menjadi designer ruang, seorang arsitek dituntut untuk bisa menjadi pengguna banggunan agar bisa merasakan efek dari besaran ruang yang diciptakan. Posisi sebagai pengguna ruang itulah yang sedang saya posisikan terhadap diri saya tadi. Saya memposisikan diri saya sebagai ibu dari anak-anak, sebagai pasien, dan juga sebagai perawat dan dokter.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa arsitek yang membangun, karena sebagai seorang arsitek pun saya juga seringkali khilaf dalam mendesain. Yang saya kecewakan sebenarnya adalah pemerintah kota atau provinsi yang memberi IMB (Izin Mendirikan Bangunan).

Rumah sakit adalah fasilitas umum dimana ada banyak kegiatan publik dan kegiatan medis saling bersinggungan.

Yang pertama adalah lokasi. Bagaimana mungkin sebuah rumah sakit bisa diizinkan berada di daerah ramai sirkulasi, tepatnya di persimpangan jalan tiga cabang yang berbagai kendaraan melewatinya dengan lebar jalan tidak lebih dari 6m? Ketika ada sebuah mobil melintas di depan rumah sakit, mobil dari arah berhadapan harus pelan-pelan berjalan agar tidak bersenggolan. Ditambah lagi di kiri kanan jalan adalah tempat pedagang kaki lima tanpa halaman. Pintu toko ketika dibuka langsung ke jalan. Rumah sakit yang setiap saat ada pasien dan keluarganya berlalu lalang memiliki parkir di seberang jalan. Bukankah ini adalah rumah sakit ibu dan anak? Bukankah pasiennya adalah ibu-ibu hamil dan anak-anak kecil? Alangkah teganya membiarkan mereka sebelum masuk ke rumah sakit harus menyebrang dahulu di jalanan nan ramai seperti itu? Apa yang dipikirkan oleh arsitek lain tentang hal ini? Bukankah sebaiknya parkir berada di halaman rumah sakit atau di basement?

Kedua, Sebuah rumah sakit akrab sekali dengan Ambulance, mobil pasien IGD, kursi roda, dan brankar dorong. Bagaimana mungkin ramp rumah sakit memiliki ketinggian yang curam? Ditambah lagi ramp langsung berbatasan dengan jalanan ramai? Sirkulasi ambulance yang tidak ada ujung untuk manuver atau perputaran mengharuskan ambulance harus bergerak mundur pada ramp yang curam tersebut. Sementara halaman depan IGD diperuntukkan untuk parkir juga. Bagaimana caranya ambulance bergerak cepat dalam keadaan darurat?

Saya terus berpikir bagaimana dan bagaimana sepanjang memasuki rumah sakit. Saya sejenak termenung kembali. Mata saya pun tertuju pada satu sudut ramp di dalam rumah sakit  ketika saya berada di depan meja receptionist. Tinggi saya 163 cm. Ketika saya berdiri di depan lorong ramp itu saya merasa harus menunduk untuk memasuki ramp tersebut. Sepengetahuan saya, ramp di dalam rumah sakit digunakan untuk membawa pasien di atas brankar dorong saat operasi di lantai atas atau untuk membawa pasien berkursi roda. Saya ketahui ramp tersebut menuju laboratorium juga. Bagaimana mungkin ramp serendah itu digunakan untuk aktifitas darurat? Bagaimana caranya brankar dorong bisa berputar dengan cepat jika area itu hanya berjarak 2 meter? Alangkah kasihan sekali orang yang memiliki tinggi lebih dari 170 cm jika memasuki ramp tersebut. Ditambah lagi kemiringan yang curam terlalu dipaksakan. Ada pula pintu yang dipaksakan di samping ramp tersebut. Pintu itu terbuka ke arah dalam, jika terbuka ke luar tertutup oleh kemiringan ramp. Dan untuk memasuki ke dalam ruangan tersebut, juga harus merunduk.

Lalu mata saya tertuju ke ujung ruang. Ada tangga menuju lantai 2 di sana. Sungguh kasihan jika ibu hamil, ataupun lansia yang membawa anak kecil jika menaiki tangga tersebut. Alangkah tingginya anak tangga itu. Bagaimana tidak lelah? Ditambah lagi, ketika turun dari tangga tersebut, beberapa langkah setelah itu kita akan menabrak tiang. Bagaimana mungkin bisa ada kolom di depan tangga ;( ;(

Dan kesalahan-kesalahan ruang yang saya perhatikan itu baru di lantai dasar, untungnya hanya lantai dasar yang saya perhatikan. Untung tidak sampai lantai 3. Ingin sekali saya potret sudut-sudut ruang yang saya perhatikan tersebut, tapi saya tidak ingin terlalu memojokkan beberapa pihak yang terlibat.

Ini semua adalah koreksi untuk saya sendiri. Tidak ada niat menyalahkan siapa arsiteknya. Arsitek pun juga sering khilaf termasuk saya. Tidak pula berniat menjadi orang yang lebih pintar. Tidak sama sekali. Sekali lagi, hanya untuk koreksi.

Saya hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin pemerintah bisa memberi izin untuk mendirikan bangunan seperti ini. Bukankah rumah sakit seharusnya memiliki kelayakan yang tidak mencelakai pasien? Itu baru satu bangunan. Saya pernah mendapati ada sebuah  bangunan ruko yang dijadikan rumah sakit. Dan saya  bersyukur sekali akhirnya izinnya dicabut. Saya tidak ingin menyebutkan dimana dan apa nama rumah sakit tersebut. Yang jelas rumah sakit tersebut berada di Kota Jambi. Dan sekarang rumah sakit ruko itu izinnya hanya klinik biasa, bukan rumah sakit lagi.

Saya berharap hal-hal yang beresiko seperti ini hendaknya lebih diperhatikan lagi tentang izinnya. Memang, rumah sakit seperti itu memang dibutuhkan di Kota Jambi, peminatnya pun banyak. Tapi jika keselamatan harus dipertaruhkan, itu bagaimana? Lalu bagaimana pula dengan psikologi ruang yang timbul akibat standar-standar ruang yang terlalu dipaksakan tersebut? Bukankah itu membahayakan pasien?

Saya pun harus banyak belajar kembali mengenai standar ruang.

 

Amelilo

Jambi, 17 April 2016, 12.15 WIB

 

Advertisements